08 October 2026   |   (Jak Tv)

Bank Jakarta Hadirkan Biodigester, Olah 1,2 Ton Sampah Organik per Hari di Rorotan

Share

JAKARTA, 8 Oktober 2026 — Pengelolaan sampah berbasis lingkungan terus dikembangkan di kawasan permukiman padat Jakarta. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan biodigester komunal yang mengolah sampah organik menjadi sumber energi terbarukan di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Fasilitas biodigester yang dibangun Bank Jakarta bersama sejumlah mitra tersebut menjadi salah satu perhatian Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD Provinsi DKI Jakarta dalam kunjungan kerja pada Senin (5/10/2026).

Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi mengatakan, pengolahan sampah langsung dari sumbernya dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menangani persoalan sampah perkotaan. Selain mengurangi timbulan sampah, pengolahan tersebut juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

Ia menyebut, sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat merupakan sampah organik, terutama yang berasal dari sisa makanan dan aktivitas rumah tangga. Kondisi tersebut membuat pengolahan sampah dari lingkungan tempat tinggal menjadi penting agar sampah tidak seluruhnya dibawa ke tempat pembuangan.

“Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak,” ujar Ghozi.

Dorong Replikasi di Wilayah Lain

Kunjungan Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta juga menjadi bagian dari fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan, khususnya yang dilakukan oleh badan usaha milik daerah (BUMD) DKI Jakarta.

Ghozi mendorong agar fasilitas pengolahan sampah berbasis komunitas tersebut dapat dikembangkan di wilayah Jakarta lainnya. Menurutnya, kebutuhan terhadap pengelolaan sampah dari sumber juga terdapat di berbagai kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.

“Kami berharap program ini tidak berhenti di Jakarta Utara saja, tetapi juga dilebarkan ke wilayah lain seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan kawasan padat penduduk lainnya,” katanya.

Selain mendorong perluasan program, DPRD DKI Jakarta juga tengah mengupayakan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) terkait CSR/TJSL. Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar yang lebih kuat dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan di Jakarta.

Ghozi mengatakan, program TJSL idealnya tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan lingkungan.

Biodigester Olah hingga 1,2 Ton Sampah per Hari

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, pembangunan biodigester di Rusunawa Rorotan merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan masyarakat.

“Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung,” jelas Agus.

Selain di Rusunawa Rorotan, fasilitas serupa juga tersedia di TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Kedua fasilitas tersebut menggunakan teknologi digester biogas berbahan fiberglass dan dilengkapi mesin pembubur sampah organik dengan kapasitas pengolahan hingga 250 kilogram per jam.

Khusus di Rusunawa Rorotan, fasilitas biodigester mampu mengolah sampah organik hingga 1,2 ton per hari. Kapasitas tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan rusun yang terdiri dari empat tower dan dihuni sekitar 300–400 kepala keluarga.

Sampah organik yang diolah melalui fasilitas tersebut menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif LPG untuk kebutuhan memasak. Selain biogas, proses pengolahan juga menghasilkan produk samping berupa pupuk organik.

Dalam satu hari, biodigester dapat menghasilkan sekitar 400–450 liter pupuk organik cair dan 50–100 kilogram pupuk organik padat. Produk tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan warga untuk mendukung kegiatan urban farming di lingkungan rusun.

Dari aspek lingkungan, fasilitas biodigester tersebut diproyeksikan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 154,4 ton CO2e setiap tahun.

Pemilahan Sampah Warga Meningkat

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto mengatakan, pengelolaan sampah dari sumber akan berjalan lebih optimal apabila masyarakat memiliki akses terhadap fasilitas pengolahan di lingkungan tempat tinggal.

Menurutnya, Rusunawa Rorotan memiliki potensi besar untuk menerapkan sistem tersebut karena dihuni ratusan keluarga yang menghasilkan sampah organik rumah tangga setiap hari.

“Di Rusunawa Rorotan ini ada empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan estimasi timbunan sampah rata-rata, fasilitas biodigester berkapasitas pengolahan hingga 1,2 ton per hari ini akan sangat optimal menyerap sampah organik dari sisa olahan dapur warga,” kata Edy.

Edy menambahkan, keberadaan fasilitas pengolahan sampah di tingkat lingkungan turut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Di lokasi percontohan tersebut, tingkat pemilahan sampah rumah tangga disebut mengalami peningkatan. Jika sebelumnya berada di kisaran 5 persen, angka tersebut kini disebut telah mendekati 90 persen.

“Melalui kolaborasi dan penyediaan fasilitas seperti biodigester ini, tingkat pemilahan sampah rumah tangga warga di lokasi percontohan berhasil meningkat drastis dari yang sebelumnya hanya 5 persen kini mencapai hampir 90 persen,” tuturnya.

Jakarta Utara juga menjadi salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai lokasi pilot project dalam road map pengelolaan sampah di Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah daerah, BUMD, kementerian, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas penerapan konsep ekonomi sirkular sekaligus menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Melalui pemanfaatan biodigester, sampah organik rumah tangga tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi sumber energi, pupuk, serta memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

Share