JAKARTA - Bukti dari zona inti es sepanjang 2.000 kaki mengungkapkan, bahwa Lapisan Es Antartika Barat menyusut secara tiba-tiba dan dramatis sekitar 8.000 tahun yang lalu. Ini diungkap dalam sebuah penelitan yang memberikan wawasan mengkhawatirkan tentang seberapa cepat es Antartika dapat mencair dan menyebabkan permukaan laut melonjak.
Menurut penelitian yang diterbitkan Rabu (7/2/2024) di jurnal Nature Geoscience, Bagian dari lapisan es menipis 450 meter (1.476 kaki) atau lebih tinggi dari Empire State Building, hanya dalam kurun waktu 200 tahun pada akhir Zaman Es terakhir. Ini adalah bukti langsung pertama yang menunjukkan hilangnya es dengan cepat di wilayah Antartika.
“Meskipun para ilmuwan mengetahui bahwa lapisan es lebih besar pada akhir Zaman Es terakhir dibandingkan saat ini, tapi masih sedikit yang mengetahui kapan tepatnya penyusutan tersebut terjadi,” kata ahli glasiologi di Universitas Cambridge Inggris dan penulis penelitian tersebut, Eric Wolff, melansir CNN.
Sekarang sudah jelas bahwa lapisan es menyusut dan menipis dengan sangat cepat di masa lalu, kata Wolff, bahayanya adalah hal itu bisa terjadi lagi. “Jika mereka mulai mundur, mereka akan melakukannya dengan sangat cepat,” kata dia lagi.
Hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk terhadap kenaikan permukaan air laut global. Lapisan Es Antartika Barat menampung cukup air untuk menaikkan permukaan laut sekitar 5 meter (lebih dari 16 kaki) yang akan menyebabkan banjir besar di kota-kota pesisir di seluruh dunia.
“Penelitian ini merupakan pekerjaan detektif yang luar biasa mengenai sebagian besar lapisan es Antartika. Pesan utamanya adalah jumlah es yang tersimpan di Antartika dapat berubah dengan sangat cepat, dengan kecepatan yang sulit diatasi di banyak kota pesisir,” ungkap ahli glasiologi di Universitas Colorado Boulder, Ted Scambos.
Inti es merupakan arsip sejarah atmosfer bumi. Terdiri dari lapisan es yang terbentuk saat salju turun dan memadat selama ribuan tahun. Lapisan tersebut mengandung gelembung udara purba serta kontaminan yang memberikan catatan perubahan lingkungan selama ribuan tahun.
Inti es yang dianalisis dalam penelitian ini dibor dari Skytrain Ice Rise yang terletak di tepi lapisan es, dekat titik di mana es mulai mengapung dan menjadi bagian dari Ronne Ice Shelf.
Para ilmuwan mengekstraksinya pada 2019, melalui proses yang melelahkan yang melibatkan pengeboran terus-menerus selama 40 hari, menarik silinder es tipis beberapa meter setiap kalinya. Mereka kemudian memotong inti menjadi beberapa bagian, mengemasnya dalam kotak terisolasi yang disimpan pada suhu minus 20 derajat Celcius, dan mengirimnya ke Inggris melalui pesawat.
Sesampainya di Inggris, para ilmuwan mengukur isotop air inti es, yang memberikan informasi tentang suhu di masa lalu. Suhu yang lebih hangat menunjukkan adanya es di dataran rendah, anggap saja seperti gunung, semakin tinggi seseorang pergi, semakin dingin suhunya.
Mereka juga mengukur tekanan gelembung udara yang terperangkap di dalam es. Es yang terletak lebih rendah dan lebih tipis mengandung gelembung udara bertekanan lebih tinggi.
Merupakan suatu kejutan ketika data mengungkapkan betapa cepatnya es menipis pada akhir Zaman Es terakhir. “Kami sebenarnya menghabiskan banyak waktu untuk memastikan bahwa kami tidak membuat kesalahan dalam analisis,” kata Wolff.
Lapisan Es Antartika Barat sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena daratan di bawahnya berada di bawah permukaan laut dan memiliki kemiringan ke bawah. Saat air hangat masuk ke bawahnya, ia bisa meleleh dengan sangat cepat. “Prosesnya bisa berjalan tanpa henti, dan itulah yang terjadi 8.000 tahun lalu,” kata Wolff.
“Apa yang membuat temuan ini sangat mengkhawatirkan, adalah ketika hal tersebut terjadi, sangat sedikit yang dapat kita lakukan untuk menghentikannya,” ujar ilmuwan inti es di British Antarctic Survey dan salah satu penulis penelitian, Isobel Rowell.
Hal yang krusial adalah tidak mengujinya terlalu jauh, dan itu berarti mengatasi perubahan iklim untuk bisa menghindari titik kritis itu. Data baru tersebut akan membantu meningkatkan akurasi model yang digunakan para ilmuwan untuk memprediksi bagaimana lapisan es akan merespons pemanasan global di masa depan.
Sumber : REPUBLIKA
Foto : istimewa
Simak berita lainnya di Jaktv Official