29 October 2026   |   (Jak Tv)

Pemkot Jakarta Selatan Salurkan Alat Bantu Fisik untuk Dukung Mobilitas Penyintas Stroke

Share

JAKARTA, 29 Oktober 2026 – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan memperkuat dukungan bagi penderita dan penyintas stroke melalui penyaluran alat bantu fisik (ABF) untuk menunjang mobilitas. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung pencegahan, deteksi dini, penanganan, hingga pemulihan stroke, sekaligus memperingati Hari Stroke Sedunia atau World Stroke Day.

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, mengatakan peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan dukungan moral kepada penderita dan penyintas stroke agar tetap bersemangat menjalani proses pemulihan dan meningkatkan kemampuan mobilitas.

"Hari ini kami bersama teman-teman dari Kawan Stroke Indonesia melaksanakan kegiatan ini. Paling utama, kami ingin memberikan dukungan kepada seluruh penderita stroke di Jakarta agar mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk terus melakukan mobilitas secara baik,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).

Syafrin berharap komunitas seperti Kawan Stroke Indonesia dapat menjadi wadah bagi penderita dan penyintas stroke untuk mempererat hubungan sosial, bertukar pengalaman, serta memberikan dukungan selama menjalani pemulihan.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Pemkot Jakarta Selatan juga terus mendorong penyediaan infrastruktur dan fasilitas publik yang inklusif serta berkelanjutan. Upaya ini ditujukan untuk memudahkan akses bagi penyandang disabilitas dan masyarakat dengan keterbatasan mobilitas.

Syafrin turut mengajak organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat kerja sama dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan stroke sejak dini.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkot Jakarta Selatan menyalurkan bantuan alat bantu fisik, termasuk kursi roda dan alat bantu jalan. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan secara bertahap melalui Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan untuk membantu memenuhi kebutuhan mobilitas penerima.

Sementara itu, Ketua Umum Kawan Stroke Indonesia (KASI), Maria Rosasinta, menyampaikan bahwa penanganan stroke memerlukan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, stroke merupakan kondisi serius yang dapat menimbulkan dampak besar terhadap angka kematian dan kecacatan.

"Stroke bukan penyakit ringan, tetapi penyakit yang harus kita pedulikan karena sudah menduduki peringkat pertama untuk kematian dan kecacatan di dunia," kata Maria.

Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan komunitas stroke di Indonesia menunjukkan peningkatan. Dari yang awalnya hanya empat komunitas, jumlahnya berkembang menjadi enam dan kini mencapai lebih dari 20.000 komunitas di seluruh Indonesia, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Maria menilai perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya kepedulian dan solidaritas masyarakat terhadap penderita serta penyintas stroke. Ia berharap momentum Hari Stroke Sedunia dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan sekaligus memperkuat dukungan sosial bagi mereka yang sedang menjalani pemulihan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, tenaga kesehatan, dan masyarakat, upaya penanganan stroke diharapkan semakin optimal sehingga para penyintas dapat memperoleh dukungan yang memadai untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian mereka.

Share