27 October 2026   |   (Jak Tv)

Pemkot Jaksel Dorong Kepedulian Masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa

Share

JAKARTA, 27 Oktober 2026 – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menggelar puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional (HKJN) di Ruang Antasari, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Selasa (27/10). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa.

Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Firmanuddin Ibrahim, menyampaikan bahwa kesehatan jiwa perlu memperoleh perhatian yang setara dengan kesehatan fisik. Menurutnya, pembangunan manusia tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus diawali dengan membangun kesehatan jiwa.

"Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jiwanya dulu yang dibangun. Kalau kita mau sehat dan selamat, ada empat faktor utama, yaitu menunaikan kewajiban pada Tuhan, hidup sesuai norma dan aturan, mensyukuri apa yang ada, serta bersabar," ujarnya, Selasa (27/10).

Dalam kesempatan tersebut, Firmanuddin turut menyoroti persoalan kesehatan anak di Jakarta Selatan, termasuk kasus tengkes atau stunting. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan faktor ekonomi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan anak.

"Penanganan stunting di Jakarta Selatan bukan selalu berkaitan dengan kemiskinan, melainkan juga dapat karena kesibukan orang tua yang bekerja sehingga menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya kepada pengasuh," terangnya.

Firmanuddin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam rangkaian peringatan HKJN. Dukungan tersebut melibatkan jajaran tenaga kesehatan, pihak kecamatan dan kelurahan, narasumber, mitra tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), serta guru pendamping.

Ia berharap materi edukasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan peserta dan diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, dapat dilakukan secara lebih optimal di Jakarta Selatan.

"Peserta diharapkan dapat menyerap ilmu dan mengaktualisasikannya dalam pelayanan kepada masyarakat agar dapat menekan angka permasalahan kejiwaan dan kesehatan di Jakarta Selatan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan RSUD Pasar Minggu dan RSUD Kebayoran Baru.

"Rangkaian kegiatan diisi dengan edukasi dan sosialisasi kesehatan jiwa yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari guru, siswa, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga elemen masyarakat lainnya," bebernya.

Debi menegaskan bahwa edukasi kesehatan jiwa berperan penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat serta mengikis pandangan negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Menurutnya, setiap individu berhak memperoleh kesempatan untuk didengarkan, dihargai, dan diterima tanpa diskriminasi.

Ia juga menekankan perlunya meningkatkan perhatian terhadap kesehatan jiwa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.

"Kita berharap stigma sakit jiwa yang selama ini ada bisa kita minimalisir dan hapus karena mereka butuh didengarkan, diakui, dan keunikannya bisa diterima," ucapnya.

Lebih lanjut, Debi menyebutkan bahwa ketakutan terhadap stigma masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat untuk membangun lingkungan yang inklusif serta mendukung akses terhadap layanan kesehatan jiwa.

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga dinilai penting dalam membantu proses pemulihan. Dengan penanganan medis yang sesuai serta dukungan sosial yang memadai, orang dengan gangguan kesehatan jiwa tetap berpeluang menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.

"Harapan ke depan, stigma terhadap kesehatan jiwa bisa dihilangkan. Mereka butuh didengar, diakui, dan sebenarnya butuh diobati. Mereka bisa hidup normal selama penanganan kasus jiwa ini bisa kita atasi bersama-sama melalui pengobatan yang tepat, pengakuan dari lingkungan sekitar, serta dukungan dari keluarga," tandasnya.

Share