JAKARTA, 31 Desember 2025 – Perempuan Indonesia diminta harus menjadi peran sentral dalam pendidikan dan ketahanan keluarga pada tahun 2026 dan selanjutnya, demikian dikatakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perempuan ICMI, Dr.(Can) Hj. Welya Safitri, M.Si saat menyelenggarakan kegiatan Refleksi Akhir Tahun 2025 dengan tema “Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Hadapi Tantangan Sosial Kontemporer” di Kantor ICMI Pusat, Jakarta, Selasa (30/12).
“Perempuan adalah garda terdepan dalam menjaga moral bangsa. Sebagai pendidik pertama dalam keluarga, perempuan memiliki tanggung jawab besar membentuk karakter generasi sekaligus memperkuat ketahanan sosial,” ujarnya dalam sambutan.
Selain Welya, diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional sebagai narasumber, di antaranya dr. Dewi Inong, Sp.KK (Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin), Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Iman Parung, Dr Ummi Waheda dan Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi, Azimah Subagijo, S.Sos., M.Si., MBA,. Mereka membahas isu-isu krusial yang memengaruhi keluarga Indonesia, seperti pornografi, perselingkuhan, perkawinan tidak tercatat, perilaku seksual berisiko, hingga tantangan relasi dan pola asuh di era digital.
"Mau jadi apa bangsa ini, jika Perempuan Indonesia digambarkan dalam banyak pemberitaan tahun 2025 lalu oleh para tokoh wanita melalui peristiwa nikah siri, perselingkuhan hingga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) baik sebagai korban maupun pelaku," ujar Welya.
Menurut Welya, refleksi akhir tahun ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi dinamika sosial yang berdampak pada keluarga. “Ketahanan keluarga bukan hanya soal internal rumah tangga, tetapi juga terkait kebijakan publik, kesehatan, dan nilai keumatan. Perempuan ICMI berkomitmen memperkuat advokasi dan edukasi agar keluarga Indonesia tetap berdaya dan bermartabat,” tegasnya.
Sementara itu, dr. Dewi Inong, Sp.KK menekankan akan pentingnya keseimbangan peran kedua orangtua dalam pendidikan dan ketahanan keluarga, khususnya dalam kasus kekerasan seksual dan penyimpangan seksual semacam LGBT.
"Banyak kasus remaja terjatuh dalam perzinahan dan LGBT adalah karena kurangnya peran ayah dalam partisipasi mendidik keluarga dan anak, dan itu terjadi disebabkan anak kehilangan sosok ayah dalam hidupnya," kata dr Inong.
Sementara itu, Azimah Subagijo mengungkapkan agar masyarakat juga harus berhati-hati terhadap kekerasan yang sudah berpindah ke dunia digital.
"Era digital telah memindahkan banyak peristiwa dan termasuk perbuatan kekerasan seksual pada anak dan perempuan melalui konten digital yang hampir sulit difilter oleh mereka sendiri, sehingga butuh perhatian khusus dari para orangtua," kata Azimah.
Merujuk data Kementerian Komunikasi Digital yang dirilis 2024-2025 lalu, meski telah menangani lebih dari 1,3 juta kasus konten negatif yang 233.552 kasus adalah konten pornografi yang hingga hari ini masih terus bermunculan dan berulang-ulang.
"Terlebih kemajuan AI yang lebih cepat diluar dugaan, turut membawa dampak luarbiasa dalam memproduksi konten palsu berbau seksual seperti Deepfake. Karena itu tuntutan melek literasi digital dan AI memang mutlak diperlukan bagi orangtua yang ingin membersamai anak-anaknya," kata Azimah.
Diskusi interaktif ini diikuti oleh pengurus dan anggota Perempuan ICMI, akademisi, aktivis perempuan, mahasiswa, serta masyarakat umum.
Melalui kegiatan ini, Perempuan ICMI berharap dapat memperkuat peran perempuan sebagai agen nilai, literasi sosial, dan penjaga harmoni keluarga di tengah tantangan sosial kontemporer.