JAKARTA, 9 Oktober 2026 – PT Pertamina (Persero) meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan teknologi pengeboran sebagai langkah persiapan mengembangkan potensi minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional di Indonesia. Upaya ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan teknis dalam mengeksplorasi sumber daya migas yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu langkah yang dilakukan Pertamina adalah menyelenggarakan pelatihan Extended-Reach Drilling (ERD) Well Design for Unconventional Well pada 5–16 Oktober 2026 di Millennium Centennial Center, Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti 24 peserta yang berasal dari berbagai entitas Pertamina dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Peserta pelatihan berasal dari PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), PT Pertamina EP, PT Pertamina EP Cepu, serta SKK Migas.
Program ini merupakan hasil kerja sama Pertamina Corporate University (PCU), PHE, dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC), dengan dukungan mitra teknis internasional Blade Energy Partners.
VP Learning Development PT Pertamina (Persero), Yulius S. Bulo, menekankan bahwa kesiapan tenaga kerja harus menjadi prioritas sebelum program pengeboran dijalankan. Menurutnya, pengembangan kemampuan teknis sejak tahap persiapan menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan operasional.
“Ketika kita memiliki rencana untuk mengembangkan program pengeboran, kuncinya adalah manusia. Kita tidak bisa mengembangkan kompetensi setelah program dimulai. Kompetensi teknis harus dibangun sebelum program tersebut berjalan,” ujarnya.
Yulius menambahkan, penguatan technical capability assurance atau kepastian kompetensi teknis diperlukan agar perusahaan dapat mengelola aset secara optimal dan merespons perkembangan teknologi pengeboran yang semakin kompleks.
Sementara itu, VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus, menilai migas nonkonvensional memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan potensi sumber daya energi Indonesia. Potensi tersebut mencakup batuan sumber (source rock) yang berada di bawah atau di luar zona reservoir konvensional.
“Di bawah zona konvensional, kita masih memiliki source rock unconventional. Kita harus mengeksplorasi dan memanfaatkan seluruh potensi minyak dan gas tersebut,” katanya.
Fata menjelaskan, negara seperti Amerika Serikat, Argentina, China, dan Australia telah mengembangkan migas nonkonvensional dengan memanfaatkan kemajuan teknologi pengeboran serta penyelesaian sumur (completion).
Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat penguasaan teknologi dan kemampuan teknis di dalam negeri agar pengembangan sektor tersebut tidak terus bergantung pada teknologi dari luar negeri.
“Jangan hanya mengimpor teknologi. Kita harus membangun kapabilitas lokal dan ekosistem industri di Indonesia,” tegas Fata.
Penguatan kemampuan nasional, lanjutnya, perlu mencakup penguasaan metode pengeboran, pemahaman terhadap kebutuhan peralatan dan material, serta pengembangan proses pendukung operasi sumur nonkonvensional. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor.
Sejalan dengan upaya tersebut, Yulius mendorong peserta pelatihan untuk mengembangkan keahlian hingga menjadi subject matter expert atau ahli di bidang masing-masing. Pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam lingkungan kerja serta dibagikan kepada komunitas industri migas di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi antara PCU, PHE, dan Pertamina Drilling melalui IDTC bersama Blade Energy Partners menjadi bagian dari strategi pengembangan SDM yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi dan operasional sektor hulu migas.
Melalui program ini, Pertamina berupaya menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi untuk menghadapi tantangan pengeboran nonkonvensional. Kesiapan SDM yang didukung penguasaan teknologi dan ekosistem industri nasional diharapkan dapat memperkuat upaya pemanfaatan potensi migas nonkonvensional di Indonesia.