JAKARTA, 28 Oktober 2026 – Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, membuka kegiatan Dialog Interaktif Wawasan Kebangsaan yang berlangsung di Ruang Dirgantara, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman kebangsaan di kalangan generasi muda sekaligus mengantisipasi tawuran pelajar dan penyebaran berita bohong atau hoaks.
Dialog tersebut merupakan hasil kolaborasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Koordinatoriat Jakarta Selatan dengan unsur tiga pilar. Sebanyak 265 peserta yang terdiri dari pelajar SMA sederajat dan guru pendamping turut mengikuti kegiatan tersebut.
Syafrin menyampaikan apresiasi kepada PWI Jakarta Selatan atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan edukatif ini. Ia menilai insan pers mempunyai peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa melalui penyampaian informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
"Tentu, sebagaimana kita ketahui, para insan pers memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya-upaya kita untuk terus mempertahankan agar persatuan dan kesatuan negara ini terus berlanjut," ujarnya, Rabu (28/10).
Ia menambahkan, di tengah perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus globalisasi, wawasan kebangsaan menjadi landasan penting bagi generasi muda. Kemampuan dalam memilah informasi juga perlu ditingkatkan agar pelajar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks maupun provokasi yang dapat menimbulkan konflik.
"Kemampuan memilah informasi juga diperlukan agar pelajar tidak mudah terpengaruh berita bohong maupun provokasi yang berpotensi memicu konflik," terangnya.
Menurut Syafrin, media massa yang menyajikan pemberitaan secara profesional dan berimbang dapat membantu mencegah konflik di tengah masyarakat, termasuk tawuran antarpelajar.
"Kita harapkan insan pers bisa memberikan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat," ungkapnya.
Ia berharap kerja sama antara pemerintah, aparat penegak hukum, insan pers, tenaga pendidik, dan pelajar terus diperkuat untuk membentuk generasi muda Jakarta Selatan yang cakap bermedia, berkarakter kuat, serta menjauhi tindakan kekerasan.
Syafrin juga mengimbau para guru pendamping agar melanjutkan edukasi mengenai literasi digital dan wawasan kebangsaan kepada siswa di lingkungan sekolah setelah kegiatan berlangsung.
"Melalui kegiatan ini, saya harapkan para guru bisa meyakinkan para pelajar agar menerima informasi dari lembaga pers profesional dan terpercaya yang memberitakan apa adanya sesuai temuan di lapangan," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua PWI Koordinatoriat Jakarta Selatan, Joni Matondang, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya penyebaran hoaks yang dapat memicu provokasi dan meningkatkan risiko tawuran di kalangan remaja.
Joni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif melindungi generasi muda dari pengaruh informasi negatif yang berpotensi merusak moral dan mengganggu persatuan bangsa.
"Pemberitaan hoaks di mana-mana sudah menyebar. Maka itu, kita bersama-sama harus menjadi garda terdepan dalam mengatasi permasalahan tersebut," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa penerapan wawasan kebangsaan di era modern tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui berbagai tindakan positif dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut mencakup berbuat kebaikan, meningkatkan kepedulian untuk mengenali potensi masalah sejak dini, serta berkontribusi dalam mencegah kekerasan antarpelajar.
"Stop penyebaran hoaks, stop itu yang namanya tawuran, mari kita cintai bangsa ini dengan sebaik-baiknya," tandasnya.